Notulensi Seminar ‘Children Nutrition Talk: Optimalisasi 1000 hari pertama kehidupan’ (1)

Tahukah kalian kalau tanggal 25 Februari adalah Hari Gizi Nasional? Penetepan hari gizi nasional dimulai pada tahun 1960an oleh LMR (Lembaga Makanan Rakyat) dan dilanjutkan oleh Direktorat Gzi pada tahun 1970an dalam rangka memperingati berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan yang merupakan tempat pengkaderan tenaga gizi Indonesia. Pada hari gizi nasional yang ke sekian ini saya mengikuti seminar tentang gizi dengan judul ‘Children Nutrition Talk: Optimalisasi 1000 hari pertama kehidupan’. Awalnya saya merasa salah tempat berada di seminar ini karena kebanyakan pesertanya adalah pasangan suami istri yang datang sambil menggendong anak, meski ada beberapa teteh-teteh yang sepertinya masih single seperti saya hehe. Tapi setelah seminar ini berjalan saya merasa beruntung telah datang ke seminar ini karena mendapat banyaak sekali ilmu baru. Oleh karena itu seperti biasa saya akan coba tuliskan notulensinya disini untuk berbagi kepada teman-teman pembaca (yang nyasar ke) blog ini sekaligus untuk catatan yang bisa saya buka lagi di masa depan kalau udah jadi ibu-ibu.

Saat melihat posternya saya bertanya-tanya, maksud dari 1000 hari pertama kehidupan itu sebenernya kapan ya? Jawaban pertanyaan saya langsung diulas oleh pembicara pertama, dr. Dimas E Lutfimas dari Departemen Ilmu Gizi Medik Fakultas Kedokteran UNPAD. Ternyata 1000 hari pertama kehidupan adalah sejak pembuahan terjadi hingga manusia berusia sekitar 2 tahun. Lebih tepatnya 270 hari kehamilan ditambah 730 hari setelah lahir.

1000 hari pertama kehidupan ini merupakan masa yang krusial dalam perkembangan dan pertumbuhan seorang manusia karena pada rentang waktu tersebut semua organ tubuh tumbuh dan berkembang dengan cepat secara irreversible, artinya jika saat pertumbuhan ada masalah akibat kurangnya nutrisi, anak akan berpotensi mengalami kecacatan atau anomali dalam pertumbuhannya, dan anomali tersebut sulit untuk diperbaiki lagi.  Oleh karena itu nutrisi anak pada masa golden age harus sangat sangat sangat diperhatikan.

Ibu memiliki peran penting dalam memasok asupan nutrisi bagi anak. Mengapa? karena janin dan bayi hanya mendapat nutrisi dari ibunya. Hal ini yang menyebabkan seorang ibu harus menjaga nutrisi yang masuk ke dalam tubuhunya bahkan sejak sebelum menikah.

Menurut pembicara, pola makan dewasa normal adalah 3J yaitu teratur JADWAL, teratur JENIS, dan terkendali JUMLAH. Sebaiknya dalam satu hari kita makan sebanyak 5 kali yang terdiri dari 3 kali makan utama dan 2-3 kali makan cemilan. Paradigma kita tentang makan perlu diperbaharui, makanan adalah apa yang masuk ke mulut lalu mengahasilkan energi. Jadi makan cakue, cincau, jus alpukat, teh manis adalah termasuk kategori makan cemilan. Akan tetapi jenis cemilan yang disarankan oleh pembicara adalah buah-buahan. Selain jadwal makan, jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh juga penting untuk diatur. Sebaiknya dalam sehari makanan kita mengandung sumber karbohidrat, protein nabati, protein nabati dan aneka sayuran. Apabila makan sesuai jadwal dan jenis yang tadi dipaparkan, jumlah asupan makanan ke dalam tubuh kita berkisar antara 1600-2200 kkal/hari. *Saya jadi ingat ketika saya internship di Chevron Kalimantan, saat makan di setiap menu dituliskan kalori makan tersebut. Ada suatu kesenangan tersendiri saat memilih makanan sambil menghitung jumlah kalori makanan yang ada di piring saya*

Seperti yang sudah kita ketahui, masa kehamilan dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu trimester satu  (0-3 bulan pertama), trimester dua (2-6 bulan), trimester tiga (7-9 bulan). Pada trimester pertama, biasanya ibu mengalami ngidam dan morning sickness. Ada yang bilang kalau ngidam adalah refleks tubuh secara naluriah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang kurang. Misalnya tubuh sedang kekurangan vitamin c, maka kita merasa ingin memakan jeruk. Ibu yang kehamilannya sedang berada di trimester satu sebenarnya belum perlu menambah kalori sehingga makan tidak perlu berlebihan. Namun jadwal makan perlu diatur dan jenis makanan yang masuk harus diperbaiki lagi. Saat memasuki trimester dua, ibu memerlukan tambahan kalori sebanyak 300 hingga 350 kkal/hari karena pembentukan organ janin sudah berhenti dan ibu membutuhkan energi tambahan untuk pembesaran organ-organ tubuh janin. Untuk memenuhi kalori tambahan, ibu hamil dapat menambah 200 hingga 250 gram nasi setiap hari atau menambah 4 hingga 5 sendok makan nasi setiap makan utama. Pada trimester tiga, pola makan jadwal dan jenis harus tetap dipertahankan, serta kebutuhan kalori ibu hamil meningkat sekitar 450 hingga 500 kkal perhari. Nilai kalor tersebut setara dengan penambahan 300-350 gram nasi setiap hari atau satu porsi makan lengkap dibagi tiga kali makan.

Seperti halnya ibu hamil, ibu menyusui juga memerlukan kalori ekstra untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya sehari-hari. Menyusui merupakan salah satu aktivitas yang sangat menguras energi ibu. Energi untuk menyusui sebagian besar diambil dari lemak cadangan tubuh ibu sendiri. Oleh karena itu berat badan ibu setelah melahirkan dapat turun 0,5 hingga 1 kg perbulan dan ibu akan semakin cepat langsing. Selain dari lemak, ibu membutuhkan kalori tambahan dari nutrisi harian yang masuk. Pada enam bulan pertama setelah melahirkan, ibu menyusui perlu tambahan 330 kkal perhari, lalu pada enam bulan berikutnya membutuhkan tambahan 400 kkal perhari. Untuk menghindari dehidrasi akibat menyusui, sebaiknya setiap menyusui ibu meminum satu gelas air putih.

Selanjutnya pembicara memaparkan beberapa keuntugan ASI bagi ibu dan bayi, yaitu:

  1. Mempererat ikatan antara ibu dan anak sehingga meningkatkan perkembangan psikologi dan kecerdasan bayi
  2. ASI lebih aman dari kontaminasi bakteri dibandingkan dengan susu formula
  3. ASI tidak menyebabkan alergi
  4. ASI lebih murah dan praktis, suhu ASI sesuai dengan suhu bayi
  5. Menyusui merangsang rahim berkontraksi sehingga pendarahan masa nifas lebih cepat berhenti dan rahim cepat kembali normal
  6. Menyusui dapat mencegah ovulasi sehingga hal ini merupakan cara KB yang alami

Diakhir sesi pertama, pembicara menjelaskan bagaimana nutrisi pada bayi. Pada enam bulan pertama, bayi wajib diberi ASI eksklusif, artinya bayi hanya boleh meminum ASI saja, tidak boleh makan makanan selain ASI. Saat bayi berusia 6-24 bulan, bayi tetap diberikan ASI sambil diperkenalkan dengan MPASI (makanan pendamping ASI). Pemberian MPASI tidak boleh dilakukan sebelum enam bulan karena perkembangan mulut bayi terjadi secara bertahap sehingga tidak boleh memakan makanan yang teksturnya keras. Pemberian MPASi dilakukan secara bertahap dengan konsistensi yang meningkat. Pada usia 6-9 bulan, MPASI yang dianjurkan adalah makanan lumat yang dihancurkan, lalu saat berusia 9 hingga 12 bulan bayi mulai diberikan makanan lembek atau makanan yang dicincang, dan saat menginjak usia 12 hingga 24 bulan bayi sudah boleh diberikan makanan keluarga namun lunak. Makanan keluarga yang dimaksud adalah makanan sehari-hari keluarga misalnya sayur sop tapi sayurnya dimasak lebih lunak, atau nasi tim.

MPASI perlu mengandung sumber karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayur dan buah. Pemberian makanan yang berpotensi menimbulkan alergi, misalnya seafood perlu dilakukan namun sebaiknya diberikan secara bertahap dalam hal jumlah lalu diperhatikan bagaimana reaksi bayi dalam mencerna makanan tersebut. Bayi pun sebaiknya dikenalkan dengan berbagai rasa makanan tapi makanan yang pedas tidak dianjurkan untuk diberikan pada bayi.

Sekian notulensi dari sesi pertama. Untuk sesi kedua tentang ASI oleh Ibu FB Monika dapat dilihat disini.

Persiapan Menghadapi Kehidupan Selanjutnya

Beberapa hari ini sepertinya Allah ingin memberikan pemahaman tentang memaknai hidup. Bahwa hidup di dunia hanya sementara dan kematian adalah suatu keniscayaan. Bahwa kehidupan selanjutnya perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya mulai dari sekarang.

Rabu (1/4). Saya kuliah dari jam 7 hingga jam 9, lalu segera ke kantin untuk sarapan. Di sela-sela sarapan, saya mengirimkan pesan sms kepada beberapa pengelola biodigester di Kota Bandung meminta bertemu dan wawancara untuk keperluan tesis saya. Saya merasa sangat senang saat hp saya bergetar. artinya ada yang segera membalas sms saya. Tetapi perasaan tersebut berubah drastis saat saya membaca pesan pertama yang masuk ke dalam inbox handphone.
“Mohon maaf Pak Harris sudah tiada meninggalkan kami dua minggu lalu tepatnya tanggal 15 maret”
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiu’un. Maaf saya tidak tau kalau Pak Harris sudah tidak ada”
“Iya semua juga kaget. Hari sabtu kami masih beraktivitas bersama-sama hingga malam tapi dini hari sudah tidak ada tanpa pesan apapun. Kami atas nama keluarga mohon maaf apabila ada kesalahan beliau. –Yani Harris”
Saat itu seketika saya merasa seperti ada yang mencair di hati saya. Pesan singkat di hari itu mengingatkan saya bahwa setelah meninggal, semua hal duniawi yang dulu diusahakan, semuanya akan ditinggalkan. Dan kematian datang tidak mengenal usia maupun kondisi kesehatan. Kalau memang sudah waktunya, mau sesehat apapun, semuda apapun, kematian akan datang tak pernah terlambat walau hanya satu detikpun.

Jumat (3/4). Hari ini adalah hari kelima aki dirawat di rumah sakit. Sejak senin aki dirawat di ruang CICU (cardiac intensive care unit). Dokter baru menyadari bahwa aki menderita jantung koroner padahal selama ini kami hanya tau kalau aki sakit diabetes dan vertigo. Begitulah aki, tidak mau merepotkan kami sehingga kalau jantungnya terasa sesak, aki tidak pernah bilang.
Kini kondisi jantungnya sudah parah sekali, daerah yang tersumbat sudah luas. Jantungnya sudah melemah dan sulit untuk memompa darah keseluruh tubuh. Hal tersebut berdampak pada paru-parunya yang menjadi banyak cairan sehingga harus dilakukan cuci darah. Kata dokter, jantung aki bisa tiba-tiba berhenti kapan saja dan aki masih bisa bertahan karena pada tubuhnya dipasang berbagai alat.
Kami bergantian mentalqin aki, membisikkan kalimat syahadat ke telinga aki. Membisikkan lafadz Allah berulang-ulang ke telinga aki. Sambil berdoa penuh harap, semoga kalimat tersebut yang selalu terucap dalam hati aki karena sudah beberapa hari ini aki tidak sadarkan diri.
Sekitar jam setengah satu siang, kondisi aki menurun. Nafasnya berhenti namun jantungnya masih berdetak walaupun lemah. Saat itu tidak ada laki-laki karena mereka sedang jumatan. Tante wiwin menelepon lalu menyusul om dan aqdan supaya segera datang ke ruangan. Dokter meminta ada anak kandung aki yang menandatangani surat entahlah apa itu tapi intinya pernyataan menyetujui kalau dokter tidak akan melakukan tindakan lagi. Berbeda dengan dua hari yang lalu, saat nafas aki hampir terhenti dan detak jantungnya semakin melemah, dokter melakukan tindakan berupa stimulasi listrik menggunakan alat pacu jantung. Tapi kali ini dokter menjelaskan kalau dia sudah memberi aki obat dengan dosis paling tinggi sehingga tidak dapat menolong apa-apa lagi. Setelah surat tersebut ditandatangani, om iwan dan om toni datang ke ruangan dimana aki berada dan saat itulah sakaratul maut sedang terjadi. Kalau kata tante fitri, saat sakaratul maut aki hanya terdiam dan diakhir prosesnya seperti keselek. Setelah keselek itulah dokter menyatakan bahwa ruh aki memang sudah diambil oleh malaikat.
Jenazah dibawa ke rumah di kosambi. Setelah itu segera dimandikan, dikafani, dan dishalatkan. Sekitar jam lima sore, kami ke Tasik untuk memakamkan aki. Perjalanan kami cukup lama karena saat itu jalanan sangat macet karena sedang long weekend. Malam harinya, sekitar pukul sembilan malam, jenazah aki dimakamkan. Sebisa mungkin saya menahan sesak di dada yang semakin lama semakin menyesakkan seiring dengan menebalnya tanah yang menutup jenazah beliau.
Ini untuk pertama kalinya saya melihat secara jelas jenazah yang dikafani, dishalatkan, sekaligus dimakamkan. Selama prosesi tersebut saya menahan diri untuk tidak menangis, walaupun seringkali pertahanan saya bobol oleh volume air mata yang sudah tidak tertahankan lagi. Saya tidak ingin memberatkan aki, karena katanya tangisan histeris karena kehilangan orang yang meninggal hanya akan memberatkan almarhum. Semoga memori tentang ini terus melekat, agar selalu jadi pengingat bahwa suatu saat nanti saya yang akan merasakan sakaratul maut, dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan. Diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Minggu (5/4), kami segera menunaikan hak almarhum, yaitu membayarkan hutang dan membagikan harta waris. Keluarga tidak tahu apakah aki punya hutang atau tidak tapi sepertinya memang tidak ada. Setelah kami membereskan kamar dan mengumpulkan barang-barang pribadi aki, kami sekeluarga mengadakan rapat. Kami berusaha untuk menerapkan aturan Allah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk mengenai waris. Berdasarkan ilmu fiqih, bagian waris untuk istri adalah 1/8 bagian dan sisanya dibagikan kepada anak-anaknya dengan perbandingan satu bagian untuk anak perempuan dan dua bagian untuk anak laki-laki.
Saat membereskan barang pribadi aki, sekelebat memori kembali datang. Teringat ketika aki sedang memakai baju tersebut. Teringat ketika aki sedang duduk di kursi. Teringat ketika aki sedang tidur di kasur. Teringat ketika aki sedang mengantar aku ke kampus. Maafin teteh ya ki, teteh suka bandel. Dulu sewaktu jaman ngelab TA suka pulang malam ga ngabarin aki padahal aki ga bisa tidur kalau teteh belum pulang. Maafin teteh ya suka males makan malam. Sewaktu aki nyuruh makan malam teteh sering bilang iya tapi ga ke bawah buat makan soalnya malahan ketiduran di kamar. Maafin teteh yang kurang perhatian sama aki. Sekarang aki sedang apa disana? Semoga aki dilancarkan dalam menjawab pertanyaan dari malaikat munkar dan nakir ya 🙂

ini foto jaman dulu ketika onin masih muda. onin sedang digendong sama aki :')  *malu ih onin kepala aja dikerudungin tapi tangan sama kaki kemana-mana hihi :p

ini foto jaman dulu ketika onin masih muda. onin sedang digendong sama aki :’)
*malu ih onin kepala aja dikerudungin tapi tangan sama kaki kemana-mana hihi :p

Senin (6/4). Saat kami sibuk mengurus pemakaman aki, hajran-adik saya yang paling kecil, mengalami demam tinggi. Setelah diperiksa ke dokter ternyata dia menderita gejala demam berdarah dan perlu dirawat di rumah sakit. Kami sekeluarga bergantian menjaga hajran di rumah sakit. Senin malam saya kebagian jaga di rumah sakit bersama ayah dan fida. Kami tidur bergantian.
Tadi malam, sepertinya malaikat maut berjarak kurang dari dua meter dari saya. Di kamar sebelah, ada seorang bayi meninggal dunia. Terdengar jelas oleh saya, saat itu sekitar jam satu malam, Ibu bayi tersebut menangis sesegukan sambil menelepon mengabari sanak saudaranya. Sedangkan ayahnya membacakan al quran di depan tubuh bayinya yang sudah tidak bernyawa lagi. Sesekali aku mendengar isak tangis di sela-sela lantunan ayat suci Al Quran yang dia baca. Tilawah seorang ayah yang merasa teramat kehilangan bayinya menyambut fajar dengan sangat syahdu. Pagi hari keluarga tersebut pulang. Saat melintasi ruanganku, aku melihat Ibu bayi tersebut seperti yang tidak mau lepas dari anaknya. Ibu itu mendekap erat jasad bayinya, seakan ingin terus mendekap selama masih bisa bersama.

MATI UNTUK HIDUP

Gibran's Notes

Biasanya di awal tahun seperti ini saya sibuk menulis catatan resolusi yang panjang dan asal-asalan. Tujuannya supaya bisa dipajang di tembok atau layar handphone. Atau sekadar penenang diri kalau saya punya target hidup untuk satu tahun ke depan, walaupun nyatanya sebatas formalitas. Entah karena alam bawah sadar saya sudah bosan ditipu target yang tidak sekeras itu diusahakan tercapai, atau hanya karena belum mood, saya belum menulis resolusi barang sebiji. Entah kenapa.

Yang saya pikirkan sejak kemarin, justru sekelebat bayangan kakek saya, saudara sebaya saya, teman lama saya, dan secarik kertas yang ditulis ayah saya dan ditempel di depan pintu kamar dulu di masa saya SD dan SMP. Ketiga hal ini dihubungkan oleh satu hal, suatu fenomena universal yang diyakini secara absolut oleh semua orang: mati. Ini hal yang jarang-jarang, tetapi beberapa hari ini saya dibayangi oleh pikiran tentang kematian. Entah dari mana.

Memikirkan tentang mati, di saat saya sedang…

View original post 917 more words

Untuk Kita yang Akan Menikah (Part 2): Tips Membangun Keluarga Berkualitas

Minggu lalu, saya mengikuti acara seminar pranikah karena dengan randomnya diajakin sama teh Syifa buat ikut acara itu. Awalnya tidak terlalu tertarik ikut karena seminarnya berbayar, tapi ketika melihat posternya, disebutkan bahwa salah satu narasumbernya adalah Ibu Septi, saya langsung daftar untuk mengikuti seminar tersebut. Dari yang saya ketahui sebelumnya, ibu yang satu ini inspiratif. Anak beliau berprestasi walaupun tanpa mengikuti sekolah formal. Saya jadi penasaran bagaimana cara beliau mendidik anaknya, siapa tau bisa diaplikasikan di masa depan saat saya punya anak. *intinya mau bilang kalau saya ikutan seminar bukan karena tertarik sama materi nikah-nikahannya tapi tertarik sama materi parentingnya hihi*

Kalau kata Ali bin Abi Thalib, ‘Ikatlah ilmu dengan menuliskannya’. Kali ini saya mau menuliskan apa yang saya dapat dari seminar di blog ini supaya nanti bisa dibaca-baca lagi sekaligus untuk berbagi ilmu dengan teman-teman yang membaca (atau yang nyasar ke) blog ini. Sayang kalau ilmu dari tiga sesi seminar ini hanya disimpan untuk diri sendiri. *postingan kali ini merupakan postingan lanjutan dari Untuk kita yang akan berumah tangga (Part 1) *

#Sesi 3. Membangun keluarga yang berkualitas, oleh Septi Peni Wulandari

Selagi masih belum menikah, carilah jodoh dunia akhirat. Kalau kita salah memilih jodoh, maka akan menjadi bodoh dunia akhirat. Seharusnya menikah bukan hanya mengubah status menjadi seorang istri lalu menjadi ibu tanpa persiapan apapun. Ada yang perlu sama-sama dibangun, yaitu keluarga yang berkualitas, my home team.

Dalam seminar ini Ibu Septi banyak menceritakan bagaimana pengalamannya dalam membangun keluarga. Dia menikah saat usia 20 tahun. Sebenarnya dia sempat salah motivasi untuk menikah. Vonis dokter yang menyatakan bahwa dia tidak dapat memiliki anak membuatnya berdoa agar bisa cepat menikah untuk membuktikan bahwa dia bisa memiliki banyak anak. Tidak lama setelah vonis tersebut, datang lelaki yang bermaksud untuk meminangnya namun mengajukan syarat ‘Jika kita memiliki anak, aku ingin anak kita dididik oleh ibunya, bukan oleh orang lain, bahkan oleh neneknya sendiri’. Ibu Septi menyetujuinya dan membuktikannya dengan resign dari pekerjaannya sebagai PNS dengan harapan bisa fokus dan optimal dalam mendidik anak. Saat menikah, dalam surat undangan mereka tidak dicantumkan gelar akademis. Mereka sepakat akan masuk ke dalam universitas kehidupan yang hanya akan memberikan title ‘Alm’ di depan namanya.

Dalam presepsi masyarakat Indonesia, ibu rumah tangga sering dipandang sebelah mata karena banyak orang yang menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah wanita yang sudah menikah namun tidak memiliki pekerjaan. Padahal dalam keluarga, peran ibu mencakup banyak sektor mulai dari koki, pengatur gizi keluarga, manager keuangan, bertanggung jawab membuat rumah menjadi tempat ternyaman, hingga mendidik anak.

Dalam Al Quran tidak ada perintah untuk sekolah, yang ada adalah perintah untuk iqra (membaca) dan thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu). Oleh karena itu sekolah formal bukanlah satu-satunya jalan yang mesti ditempuh oleh anak. Sekolah hanyalah salah satu pilihan dari berbagai cara untuk mendidik anak. Ibu Septi menawarkan beberapa pilihan mengenai pendidikan kepada anaknya. Anak bisa memilih apakah dia akan sekolah di sekolah negeri, di sekolah alam, di pesantren atau bahkan tidak sekolah alias belajar di rumah bersama bundanya. Ketiga anaknya memilih untuk belajar dari bundanya di rumah.

Anak pertama, Enes, memiliki passion mirip dengan ibunya yaitu membuat komunitas dan senang bermain dengan anak-anak. Di usianya yang masih tiga tahun, Enes telah membuat kegiatan pengolahan sampah. Selain itu Enes pun membuat komunitas The Bright Bride. Saat berusia 14 tahun Enes kuliah ke Singapura. Pada awalnya Enes meminta uang untuk biaya kuliah kepada orang tuanya namun dia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Untuk bertahan hidup di Singapura dia menjual makanan door to door sambil mengajar. Ibu Septi membebaskan anak-anaknya mengikuti sekolah formal atau tidak sekolah, namun mengharuskan anaknya untuk berkuliah.

Anak kedua, Ara, sangat menyukai binatang. Saat masih kecil Ara senang bermain di kandang, suka berkuda dan mimpinya adalah membuat peternakan sapi. Orang tua tidak boleh mematahkan mimpi anak, maka tanggapan Ibu Septi adalah ‘kamu cantik, lembut, suka main di kandang, pegang-penag kotoran sapi, hebaat sekali nak’. Ibu Septi pun selalu berusaha untuk memfasilitasi keinginan Ara dalam hal berkuda. Saat itu biaya untuk mengikuti sekolah berkuda adalah Rp 150.000,00 per 45 menit, sedangkan gaji suaminya hanya Rp 600.000,00 perbulan. Pantas saja berkuda merupakan sunah Rasul yang jarang dilakukan oleh umat muslim, karena biayanya sangat mahal haha. Melihat kenyataan itu Ibu Septi tidak menyerah namun berusaha mencari sekolah berkuda yang ada trial nya. Ara dan bundanya mendatangi semua sekolah berkuda yang ada di Jakarta sampai Depok lalu mencoba trial nya agar Ara berlatih berkuda dengan gratis. Saat semua sekolah berkuda sudah didatangi, Ara mendatangi salah satu sekolah berkuda lalu menawarkan jasanya untuk merawat dan membersihkan kandang kuda dengan bayarannya adalah dia bisa naik kuda. Di usianya yang masih belia, Ara membina desa peternak sapi, dan saat 10 tahun Ara mendapatkan penghargaan dari Asoka Foundation atas keberhasilannya dalam membina desa. Saat ini Ara sedang fokus menjadi terapis anak autis menggunakan kuda.

Anak ketiga, Elan, merupakan anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini. Passion Elan adalah segala hal yang berhubungan dengan robot. Dia bercita-cita untuk membuat robot yang tidak mahal dari sampah. Elan pun belajar berkuda. Menurutnya memimpin orang itu seperti naik kuda. Apabila kita ragu terhadap kuda yang ditunggangi maka kuda akan mempermainkan kita, tetapi bila kita yakin dengan kuda yang ditunggangi maka kuda akan tunduk mengikuti perintah kita.

Anak perempuan adalah milik suami setelah menikah tetapi anak laki-laki adalah milik ibu selamanya. Bagaimana bisa anak lelaki menjadi milik ibunya selamanya bila tidak terjalin kedekatan batin antara keduanya. Oleh karena itu seorang ibu perlu memahami gaya mendidik anak laki-laki.

Ketiga anaknya mendapatkan pendidikan langsung dari ibu. Ibu Septi mendidik anaknya dengan cara bermain bersama, memaknai aktivitas sehari-hari, membuat proyek dan nyentrik (belajar langsung dari ahlinya). Orang tua perlu menyediakan akses bagi anak untuk berguru kepada orang yang ahli dalam bidang yang diminati oleh anak.

Menemukan passion anak sejak kecil adalah hal yang penting. Untuk bisa menemukan passion anak maka orang tua sebagai yang mengarahkan perlu bekerja dalam ranah passion pula. Saat anak berusia 0 hingga 8 tahun sebaiknya anak diberikan wawasan seluas-luasnya mengenai berbagai bidang misalnya dengan mengajak anak mengunjungi tempat yang menarik, mengenalkan anak dengan orang-orang yang sukses di bidangnya, dan mengajarkan anak melakukan kegiatan yang menarik, apapun itu. Saat anak usia 9 hingga 12 tahun anak diberi kebebasan memilih kegiatan yang dia sukai dan dibimbing untuk memiliki impiannya. Setelah usia 12 tahun anak memilih lalu mengerjakan hal yang disukai dengan sungguh-sungguh agar menjadi excellent di bidangnya dan bermanfaat bagi orang banyak. Salah satu cara mengelola passion adalah membuat papan mimpi. Pada papan tersebut dituliskan impian dari anak-anak yang selalu di aamiin kan setelah mereka shalat berjamaah.

Setelah usia 14 tahun biasanya anak sudah mengalami masa aqil baligh artinya anak sudah beranjak ke tahap dewasa dan mulai bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Saat anak mendekati usia aqil baligh, orang tua perlu mencurahkan kasih sayang lebih kepada anak supaya anak tidak mencari kasih saying orang lain. Sehingga apabila belum menikah, anak perempuan akan merasa cukup dengan kasih sayang yang diberikan oleh ayahnya. Kalau sudah ada ayah untuk apa mencari laki-laki lain yang bukan siapa-siapa.

Dalam keluarga ini ditetapkan golden rules yang isinya:
– Tetap berkomunikasi seberapa besar pun emosinya
– Bila terjadi permasalahan, kembalikan kepada Quran dan Hadits
– Selama Allah tidak melarang untuk melakukan hal itu maka terus saja lakukan
– Segala keputusan yang dihasilkan pada saat marah selalu batal.

Keluarga ini memiliki prinsip ‘kita boleh salah, yang tidak boleh adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut’. Bahkan sering dilakukan false celebration yaitu semua anggota keluarga bercerita apa saja kesalahan yang telah dilakukan pada hari itu lalu bersama-sama mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi.

Ada pertanyaan menarik di akhir sesi ketiga ini. Memang idealnya seorang ibu iu di rumah, tetapi bagaimana dengan perempuan yang harus menanggung nafkah keluarga?

Ibu Septi menyarankan lebih baik menjadi pengusaha. Dia bercerita bagaimana perjuangannya merintis usaha saat krisis moneter tahun 1998. Dia berusaha menjual baju muslim kemana-mana dan anak dilibatkan dalam proses tersebut. Dari sana dia menyadari bahwa kebagiaan dalam keluarga tidak berasal dari besarnya rupiah yang didapat namun dari kebersamaan yang ada. Hanya butuh waktu empat tahun untuk membangun bisnisnya dan kini sudah membawahi 40 karyawan. Semakin tinggi jabatan, semakin banyak pula waktu kita untuk keluarga karena hal teknis dari usaha bisa diserahkan kepada orang lain.

Apabila bekerja di luar rumah, kita perlu berkomitmen agar ketika pulang ke rumah harus dalam kondisi lebih baik daripada ketika pergi keluar rumah. Bila saat pergi kita cantik dan rapi maka saat pulang ke rumah pun harus dalam keaadan lebih cantik dan rapi. Bila saat pergi keluar rumah kita happy maka saat tiba di rumah sebaiknya lebih happy lagi dan segala keruwetan di kantor sebaiknya tidak perlu dibawa ke rumah. Kuncinya tidak boleh terlihat lelah di depan suami dan anak-anak. Selain itu walaupun bekerja di luar, tidak semua pekerjaan rumah bisa didelegasikan kepada orang lain. Seorang ibu tetap perlu memanage rumah agar selalu bersih, mengatur isi kulkas, melatih asisten rumah tangga untuk bisa memasak dengan standar kita, memantau tumbuh kembang anak, memastikan anak mendapatkan bekal agama, menjadi manager bagi pendidikan anak, dan lainnya.
***

 

Sejujurnya setelah mengikuti sesi ini aku jadi bimbang antara ingin kerja dan berkarir, tapi ingin juga totalitas dalam mendampingi suami dan mendidik anak-anak. Entahlah itu mah didiskusikan nanti saja dengan suami di masa depan hihi. Tapi prinsipnya ranah domestik harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum melangkah ke ranah publik. Selain itu apapun yang istri lakukan harus selalu berada dalam keridhoan Allah dan dengan izin suami.

Sempat terpikir juga untuk membuat sekolah islam yang tidak hanya mengajarkan teori dalam buku saja tapi menerapkan beberapa tips yang dipaparkan oleh Ibu Septi hihi *semoga bukan cuma wacana*

Aku jadi semangat untuk mengikuti majelis ilmu lainnyaa~ 😀

Untuk Kita yang Akan Menikah (Part 1): Menggapai Rumah Tangga yang Diridhoi Allah

Minggu lalu, saya mengikuti acara seminar pranikah karena dengan randomnya diajakin sama teh Syifa buat ikut acara itu. Awalnya tidak terlalu tertarik ikut karena seminarnya berbayar, tapi ketika melihat posternya, disebutkan bahwa salah satu narasumbernya adalah Ibu Septi, saya langsung daftar untuk mengikuti seminar tersebut. Dari yang saya ketahui sebelumnya, ibu yang satu ini inspiratif. Anak beliau berprestasi walaupun tanpa mengikuti sekolah formal. Saya jadi penasaran bagaimana cara beliau mendidik anaknya, siapa tau bisa diaplikasikan di masa depan saat saya punya anak. *intinya mau bilang kalau saya ikutan seminar bukan karena tertarik sama materi nikah-nikahannya tapi tertarik sama materi parentingnya hihi*

Kalau kata Ali bin Abi Thalib, ‘ikatlah ilmu dengan menuliskannya’. Kali ini saya mau menuliskan apa yang saya dapat dari seminar di blog ini supaya nanti bisa dibaca-baca lagi sekaligus untuk bisa berbagi ilmu dengan teman-teman yang membaca (atau yang nyasar ke) blog ini. Sayang kalau ilmu dari tiga sesi seminar ini hanya disimpan untuk diri sendiri.

#Sesi 1. Memantaskan diri yang benar agar pernikahan Allah mudahkan, oleh Arif Rahman Lubis
Sesi pertama diawali dengan doa ‘Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiyalaula an hadanallah’ yang artinya ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami kepada agama ini. Dan tiadalah kami memperoleh petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami’. Katanya doa tadi adalah doa para penghuni surga. Di surga nanti pastinya kita ingin bersama lagi dengan orang yang kita cintai, oleh karena itu dalam memilih jodoh harus dipastikan bahwa dia akan menjadi pasangan yang akan selalu bersama di dunia hingga nanti di akhirat tanpa ada kata berpisah. Kematian hanya membuat kita dan pasangan berada di tempat yang berbeda untuk sementara waktu alias long distance relationship. Intinya, mencari jodoh sama dengan mencari partner hidup untuk bersama-sama menuju surga.

Seperti halnya rezeki, jodoh pun datangnya dari Allah. Oleh karena itu kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, karena tidak selalu orang yang saling mencintai pasti berjodoh. Manusia hanya bisa ikhtiar dengan cara memperbaiki diri, memperbaiki agama, dan berdoa kepada Allah. Bila dia baik, mudahkanlah dia menjadi jodohku. Kalau tidak mudah ya tidak usah dipaksakan, mungkin saja memang tidak berjodoh. Doa untuk mendapatkan pasangan yang baik: ‘Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyatinaa qurrota ‘ayun’ yang artinya: ‘Ya Allah, anugerahkanlah kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati’.

Dalam pencarian jodoh, ada doa yang sering digunakan, yaitu doa istikharah. Terdapat dua poin penting yang terdapat dalam doa istikharah. Pertama, kita harus menempatkan diri sebagai hamba dan hanya Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa. ‘Sesungguhnya Engkau yang Maha Kuasa sedangkan aku tidak berkuasa. Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkau mengetahui perkara yang gaib’ Kedua, kita harus meyakini bahwa hanya dari Allah datangnya segala kemuliaan dan kebaikan, maka kita harus meminta petunjuk dan melibatkan Allah saat mengambil keputusan dalam kehidupan kita. ‘Jika sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, dien ku, kehidupanku, serta lebih baik pula akibatnya, maka mudahkanlah urusan ini bagiku dan berkahilah aku dalam urusan ini. Dan sekiranya Engkau tau bahwa urusan ini lebih buruk untuk diriku, dien ku, kehidupanku, serta lebih buruk pula akibatnya, maka jauhkanlah aku dari urusan ini dan takdirkanlah kebaikan untukku dimanapun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya’.
Untuk mendapatkan jodoh, kita perlu fokus pada kunci pembukanya. Sebagai analogi, jika kita ingin meminum jus di dalam kulkas yang terkunci, yang seharusnya kita lakukan bukanlah membayang-bayangkan jus tersebut tanpa melakukan apa-apa, tetapi mengambil kunci kulkas, membuka kulkas, lalu mengambil jus. Menurut akang narasumber, kunci pembuka jodoh antaralain:
1. Membantu sesama. Ada hadist yang menyebutkan bahwa apabila kita mempermudah urusan orang lain maka Allah akan mempermudah urusan kita.
2. Memperbaiki pergaulan.
3. Menabung uang dan ilmu. Sebelum menikah kita perlu tau apa saja kewajiban dan hak dari seorang suami dan istri, bagaimana kehidupan berumah tangga, bagaimana istri-istri Nabi, dan pengetahuan lainnya mengenai rumah tangga.
4. Berdoa untuk diri sendiri dan orang lain.
Di akhir sesi pertama, narasumber menekankan tentang keberkahan dalam pernikahan. Hanya beberapa tahun menjaga diri dari maksiat akan membuka keberkahan seumur hidup. Ketika kita meninggalkan sesuatu karena Allah maka kita akan diberikan yang lebih baik. Berkah adalah ziyadatul khoir, yaitu semakin berjalannya waktu, kebaikan yang ada akan semakin bertambah pula.

#Sesi 2. Menggapai pernikahan yang indah dan berkah, oleh Darlis Fajar
Doa yang biasanya disampaikan kepada pasangan yang baru menikah adalah: ‘Barakallahu laka wa Baraka ‘alaik, wa jama’a bainakum fi khair’ yang artinya ‘Mudah-mudahkan Allah memberkahimu baik dalam keadaan senang maupun susah, dan selalu mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan’. Dalam membangun rumah tangga, prosesnya tidak selalu diliputi oleh kesenangan, pasti ada masa-masa sulitnya.

Banyak yang terkecoh, bahagia bukan berarti kesenangan dan tolak ukurnya bukanlah materi. Kebahagiaan ada beberapa tingkatan. Tingkatan paling rendah adalah kesenangan, lalu kemesraan, dan bahagia yang paling tinggi adalah ketenangan. Nabi Ayub apakah hidupnya tidak bahagia? Walaupun diberi cobaan berupa penyakit dan hilangnya kekayaan, beliau bahagia karena beliau menyikapi hidupnya dengan benar. Kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat. Dunia ini fana, sedangkan manusia adalah makhluk yang kekal. Kematian hanya memindahkan ruh kita dari jasad ke tempat yang lain.

Saat masih muda, jangan sampai kita mengorbankan kesehatan untuk mencari uang, sedangkan saat tua mengorbankan uang untuk kesehatan. Kita hidup di hari ini, jadi tidak perlu terlalu mencemaskan masa depan.

Apabila saat berumah tangga kondisinya tidak terlalu baik dalam hal finansial, kita perlu perbanyak syukur dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Mungkin saja sempitnya rezeki itu akibat dari kesombongan kita terhadap Allah. Nabi Adam dikeluarkan dari surga karena pernah lupa kepada Allah walaupun hanya sesaat.

Menikah akan membukakan rezeki. Namun kita jangan sampai terjebak dalam hedonic treadmill. Memiliki pendapatan satu juta habis, pendapatannya meningkat menjadi lima juta habis, saat meningkat lagi menjadi sepuluh juta juga habis. Seiring dengan meningkatnya pendapatan, keinginan dan kebutuhan pun menjadi semakin meningkat, hingga akhirnya kebahagiaan akan sulit untuk didapat.

Untuk para lelaki, carilah calon ibu, bukan calon istri, karena calon ibu pasti calon istri yang baik, tetapi calon istri belum tentu bisa menjadi ibu yang baik.

Di dalam Al Quran terdapat contoh keluarga yang sakinah mawaddah warahmah yaitu keluarga Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad dan keluarga Imran. Semua anggota keluarganya taat kepada Allah. Namun ada pula keluarga yang sebagian beriman namun sebagian lagi menolak untuk taat kepada Allah misalnya keluarga Nabi Luth dan keluarga Firaun.

Dalam membangun rumah tangga, kita perlu menentukan visi terlebih dahulu. Visi rumah tangga yang baik bertujuan pada kebahagiaan ukhrawi (akhirat) dan insya Allah akan membuahkan surga. Rumah tangga yang bervisi ukhrawi berprinsip pada ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya dan pemimpin yang membela Islam. ‘Taatilah Allah, Rasul dan Ulil amri di antara kamu’.

#Sesi 3. Membangun keluarga yang berkualitas, oleh Septi Peni Wulandari

Tidaklah perlu terlalu memusingkan takdir. Karena pasti ada maksud Allah di balik semua yang terjadi-walaupun mungkin butuh waktu lama untukku memahami semuanya. Apapun itu, selama keridhoan Allah ada disana, kenapa harus berkeluh kesah?

-Husna Hanifah